Ayah Bejat Tiduri Anak Sampai Hamil

  • Bagikan

SUKABUMI,  INDONESIA PARLEMEN – Lagi lagi seorang ayah yang seharusnya melindungi anak kandungnya sendiri, malah sebaliknya sang anak ditiduri hingga hamil. Ayah di Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini cukup bejat. Betapa tidak, anak kandungnya yang berusia 16 tahun Kini kondisi perutnya membuncit.

Sang Ayah berinisial RO kabur setelah mengetahui perilaku kejinya dilaporkan ke polisi. Insiden memilukan ini kali pertama terjadi sekitar Maret lalu. Saat itu, sepulang sekolah dia kehabisan ongkos dan meminta dijemput ayahnya. Bukannya dibawa ke rumah, malah di perjalanan pelaku membawa ke rumah kosong.

Di bawah ancaman akan dibunuh dan paksaan, RS hanya bisa pasrah ketika digauli ayahnya. Aksi bejatnya itu kembali diulang RS pada bulan Maret. Tak berhenti di sana, pada Juni RO kembali menggagahi putrinya, dan terakhir awal September lalu.

Baca Juga :  Kuasa Hukum FWJ Resmi Polisikan Oknum Debt Collector ACC Finance

Terungkapnya kasus itu ketika pihak sekolah mencurigai perubahan postur tubuh RS pada Sabtu (9/9/2017) lalu. 

Setelah didesak, RS mengakui perilaku ayahnya dan kondisinya yang tengah hamil enam bulan. Mengetahui hal itu, pihak sekolah kemudian memanggil keluarga korban dan meminta menandatangani surat pengunduran diri dari sekolah. Baik pihak keluarga maupun korban tak lantas melaporkannya ke polisi. Mereka takut dengan pelaku yang dikenal preman kampung yang kerap menebar ancaman. Kejadian itu tersebar dari mulut ke mulut.

Baca Juga :  Laporan Polisi di "Petieskan" Yongky Minta Keadilan

Hingga akhirnya kabar kejadian itu sampai ke telinga Polsek Gegerbitung. Mendengar kabar itu, pelaku langsung kabur karena takut digulung petugas. Kapolsek Gegerbitung, Iptu Rafik Rahadian Syah mengatakan, setelah ramai korban dan keluarganya akhirnya bersedia membuat laporan polisi.

“Korban mengaku akan dibunuh apabila tidak mengikuti keinginan ayahnya. Korban mrngaku digagahi empat kali, yakni dua kali pada Maret kemudian bulan Juni dan terakhir awal September. Korban saat ini melarikan diri,” terang Rafik, Sabtu (23/9/2017).

Menurut Rafik, awalnya baik korban, keluarga, dan sekolah enggan melapor kasus ini. Sebab, mereka takut diancam oleh pelaku yang dikenal sebagai preman. (Jeje) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *