Megapolitan

Pelatihan Dasar dan Bedah Tembang Macapat Menjawab Kegelisahan Para Guru Bahasa Jawa

JEPARA – Walaupun disemua jenjang sekolah di Jawa Tengah telah ada pelajaran bahasa Jawa dan didalamnya ada pelajaran tembang macapat, namun tidak semua sekolah memiliki guru yang dapat mengajarkan tembang tersebut secara lengkap dan benar. Baik menyangkut guru lagu, guru gatra maupun guru wilangan. Apalagi menjelaskan isi tembang tersebut kepada para siswa.

Sebab tembang macapat sebagai karya sastra Jawa yang sangat kaya dan memiliki 11 bentuk lagu atau metrum mulai Mijil, Maskumambang, Kinanthi, Sinom, Asmaradana, Gambuh. Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh dan Pucung. Masing-masing memiliki cara penulisan dan cara melantunkan tembang yang berbeda-beda.

“Tiap jenis tembang memiliki cengkok yang berbeda. Disamping itu syair tembang tersebut sarat dengan nasehat-nesehat luhur,” ujar Dalana dihadapan 60 orang peserta Pelatihan Dasar dan Bedah Tembang Macapat yang diselenggarakan oleh Padepokan Cakra Latifah, Yayasan Kartini Indonesia dan Yayasan Damai Bagi Negeri, Pelatihan yang berlangsung hari Minggu (25/3/2018) di Padepokan Cakra Latifah Banjaragung, Kecamatan Bangsri, Jepara ini juga untuk menjawab kegelisahan para guru.

Selama ini tidak ada pelatihan khusus tembang macapat untuk para guru. Harapan peserta, pada masa mendatang ada pelatihan khusus tembang macapat untuk para guru dan bahkan seniman.

Mantan Bupati Jepara, Hendro Martojo yang juga hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, dalam sebuah sekar macapat, ada banyak pesan dan nasehat yang diungkapkan dengan lambang-lambang. Karena tembang macapat adalah karya sastra Jawa yang dinyanyikan.

“Karena itu para guru memang harus mendapatkan bekal agar mampu mentransfer nilai-nilai luhur itu dalam bahasa kekinian yang dengan mudah dipahami oleh para siswa,” ujar Hendro Martojo disela-sela sambutannya sempat melantunkan tembang Dhandanggula dan Pangkur.

Sementara bedah tembang macapat dilakukan oleh Romo Suyana Wignya Wibawa. Seniman sepuh berusia 82 tahun ini membedah tiga tembang yaitu Mijil, Dhandanggula dan Pucung. Pada akhir pelatihan dan bedah tembang macapat juga ditampilkan pagelaran wayang kulit pakeliran padat oleh Ki Dalang Sholeh Ronggo Warsito dengan cerita Kresna Malangan Dewa.

Ketua Padepokan Cakra Latifah, Ki Hendro Surya Kartiko, mengungkapkan, padepokan yang didirikan tahun 2012 ini memang bertujuan untuk melestarikan seni budaya Jawa.

“Harapan kami seni budaya bangsa dapat menjadi pilar dan sekaligus benteng karakter bangsa,” ujar Ki Hendro Surya Kartiko. (Rai)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close