InternasionalPeristiwaPolitik

Protes Kudeta, Ribuan Massa Turun ke Jalan di Myanmar

Massa turun ke jalan di Myanmar

JAKARTA, INDONESIAPARLEMEN.COM-Ribuan orang turun ke jalan, mereka mengecam kudeta yang terjadi 1 Februari dan menuntut pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi, dibebaskan.

Aksi ini adalah protes terbesar sejak “Revolusi Saffron 2007” yang membantu mengarahkan negara itu pada reformasi demokrasi. Sebelumnya selama 49 tahun, negeri yang juga dikenal dengan nama Burma itu dikuasai junta militer.

Dilansir dari Reuters, protes terjadi di kota Yangon. Warga kompak mengenakan kaos dan membawa balon merah, warna Partai Lig Nasional untuk Demokrasi (NLD) Suu Kyi.

Rombongan besar massa menuju Pagoda Syle di jantung kota tersebut. Mereka meneriakkan slogan “Kami tidak ingin kediktatoran militer! Kami ingin demokrasi!”.

“Kami tidak ingin kediktatoran untuk generasi berikutnya,” kata seorang pendemo bernama Than Zin (21).”Kami tidak akan menyelesaikan revolusi ini sampai kami membuat sejarah. Kami akan berjuang sampai akhir.”

Baca Juga :  Dinilai Terlalu Ambisius Jadi Presiden, Ganjar Pranowo Tak Diundang ke Acara PDIP

Sejumlah polisi bersenjata dengan perisai anti huru hara dilaporkan mendirikan barikade. Namun tidak ada upaya penghentian demonstrasi.

Dilaporkan juga beberapa demonstran memberikan polisi bunga. Dalam sebuah foto, seorang polisi juga terlihat memberi salam tiga jari, yang jadi simbol pergerakan di Myanmar.

Dari laporan internal PBB, diperkirakan 60.000 orang turun ke jalan dalam protes di Yangon. Sementara di Naypyidaw, ibu kota negara Myanmar, ada 1.000 orang.

Aksi protes ini juga terjadi di kota terbesar kedua Mandalay dan sejumlah desa. Reuters melaporkan ada tembakan terdengar di tenggara Myawaddy ketika polisi bersitegang dengan 200 pengunjuk rasa.

Baca Juga :  ITL Trisakti Dies Natalis ke-51 Siap Menuju Word Class University

Minggu sore blokade internet yang dilakukan militer akhirnya disudahi. Sebelumnya upaya ini menimbulkan kemarahan warga.

Belum ada komentar dari junta mengenai ini. Kantor berita yang terafiliasi dengan militer MRTV hanya melaporkan tentang seorang perwira mengunjungi rumah sakit dan pembukaan kembali sebuah pagida, tapi tak ada laporan soal protes.

Sebelumnya, Suu Kyi dan Presiden Win Myint ditahan militer di bawah pimpinan Jenderal Angkatan Darat Min Aung Hliang. Pemilu yang dimenangkan NLD dianggap penuh kecurangan.

Komisi pemilihan umum menepis tuduhan tersebut. Namun ketegangan berakhir dengan kudeta.

Saat ini Suu Kyi pun dihadapkan dengan dakwaan mengimpor enam walkie talkie secara ilegal. Ia dipenjara di tahanan polisi untuk penyelidikan hingga 15 Februari.

(CNBC/Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button