Jawab Somasi Moeldoko, ICW: Tidak Tepat Kalau Dibilang Fitnah

  • Bagikan
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko

JAKARTA – Perseteruan Moeldoko dengan ICW mengemuka. Kepala Staf Kepresidenan melayangkan somasi kepada ICW atas tudingan terlibat jaringan distribusi Ivermectin.

Sebelumnya, Moeldoko melalui pengacaranya melayangkan somasi agar ICW memberi penjelasan dalam waktu 24 jam. Belakangan, somasi diperpanjang menjadi 3×24 jam.

Moeldoko meminta penjelasan ICW atas kajian terkait distribusi obat terapi COVID-19 itu yang dilakukan PT Harsen Laboratories. Nama Moeldoko dan anaknya, Joanina Novinda Rachman, disebut dalam temuan ICW itu. Pengacara Moeldoko, Otto Hasibuan, mengancam akan membawa masalah ini ke ranah hukum bila tidak ada penjelasan dari ICW.

Atas somasi itu, ICW pun menjawabnya. ICW pun mengaku sudah melayangkan surat jawaban somasi kepada Moeldoko pada 3 Agustus 2021.

Melalui keterangannya kepada wartawan, ICW menjelaskan mengenai somasi kepada mantan Panglima TNI itu dan jawaban yang sudah dilayangkan.

Muhammad Isnur selaku kuasa hukum ICW menjelaskan bahwa kajian yang dilakukan kliennya merupakan bentuk pemantauan terhadap kinerja pejabat publik dalam bingkai penelitian.

“Salah satu bentuk partisipasi masyarakat yang dijamin dalam konstitusi, peraturan perundang-undangan, dan banyak kesepakatan internasional. Jadi, bagi ICW, pendapat kuasa hukum Moeldoko jelas keliru dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap nilai-nilai demokrasi,” kata Isnur dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Sabtu (7/8/2021).

Baca Juga :  Polri Tak Mau Dilibatkan, Laporan ICW Soal Firli Akan Dikembalikan ke Dewas KPK

Menurut Isnur, sudah banyak kajian yang dilakukan oleh ICW. Termasuk dalam hal penanganan pandemi COVID-19 oleh pemerintah.

“Sejak ICW berdiri, penelitian, khususnya terkait korupsi politik, memang menjadi mandat berdirinya lembaga ini. Salah satu metode yang sering gunakan adalah pemetaan relasi politik antara pejabat publik dengan pebisnis. Atas dasar pemetaan itu nantinya ditemukan konflik kepentingan yang biasanya berujung pada praktik korupsi,” kata Isnur.

“Maka dari itu, setiap ICW mengeluarkan kajian, salah satu desakannya juga menyasar kepada pejabat publik agar melakukan klarifikasi. Kajian polemik Ivermectin sebagaimana yang dirisaukan oleh Moeldoko juga bukan produk satu-satunya ICW selama masa pandemi COVID-19,” sambungnya.

Terkait materi distribusi Ivermectin, Isnur pun menjawab sejumlah poin yang dipermasalahkan Moeldoko. Ada dua poin yang menjadi pokok perhatian.

Pertama, Isnur menyebut bahwa ICW menemukan sejumlah indikasi keterlibatan Moeldoko dalam distribusi obat Ivermectin yang berpotensi terjadinya konflik kepentingan. Hal ini didasarkan atas relasi bisnis antara anak Moeldoko dengan Sofia Koswara (Wakil Presiden PT Harsen Laboratories, produsen Ivermectin) dalam PT Noorpay Nusantara Perkasa.

“Tidak hanya itu, beberapa pemberitaan juga menyebutkan bahwa Moeldoko sempat meminta kepada Sofia agar izin edar Ivermectin segera diproses. Padahal, pada waktu yang sama, uji klinis atas obat Ivermectin belum diselesaikan,” kata Isnur.

Baca Juga :  Polri, Kejaksaan dan KPK Dapat Nilai E Dalam Pemberantasan Korupsi Versi ICW

Isnur menyebut temuan ICW juga merujuk pada informasi yang menyebutkan adanya distribusi Ivermectin oleh HKTI yang diketuai Moeldoko bekerja sama dengan PT Harsen Laboratories kepada sejumlah masyarakat di Jawa Tengah. Tak lama berselang, BPOM menegur PT Harsen Laboratories karena telah menyalahi aturan produksi dan peredaran obat.

“Tindakan itu pun dilanjutkan dengan permintaan maaf dari produsen Ivermectin tersebut. Maka dari itu, wajar jika kemudian masyarakat mendesak adanya klarifikasi dari Moeldoko atas tindakannya terkait obat Ivermectin,” kata Isnur.

Poin kedua, ialah mengenai ekspor beras antara HKTI dengan PT Noorpay Nusantara Perkasa. Dalam surat balasan somasi, ICW sudah meluruskan bahwa telah terjadi misinformasi.

Merujuk pada siaran pers yang tertuang di website ICW, disebutkan bahwa HKTI bekerja sama dengan PT Noorpay Nusantara Perkasa dalam hal mengirimkan kader HKTI ke Thailand guna mengikuti pelatihan tentang Nature Farming dan Teknologi Effective Microorganism.

“Jadi, tidak tepat juga jika misinformasi itu langsung dikatakan sebagai pencemaran nama baik atau fitnah. Sebab, mens rea bukan mengarah pada tindakan sebagaimana dituduhkan Moeldoko dan itu dapat dibuktikan dengan siaran pers yang telah ICW unggah di website ICW,” kata Isnur.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *