Tunjuk Mantan Koruptor Jadi Komisaris BUMN, Penggiat Anti Korupsi Minta Erick Thohir Mundur

  • Bagikan
Foto: Menteri BUMN, Erick Thohir

JAKARTA –  Keputusan Menteri BUMN Erick Thohir mengangkat mantan Ketua Komisi XI DPR Izedrik Emir Moeis ditunjuk menjadi salah satu komisaris di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Pupuk Indonesia (Persero) dinilai salah kaprah.

Seakan bertolak belakang dengan visi yang selalu digaungkan Erick Thohir, yang menjadikan akhlak sebagai nilai inti kementerian. Sebab Emir Moeis merupakan mantan narapidana korupsi.

Begitu kata Ketua DPP Gerakan Indonesia Anti Korupsi (GIAK) Jerry Massie. Menurutnya, korupsi merupakan perbuatan tidak berakhlak dan membuat rakyat banyak menderita hanya demi mencari keuntungan pribadi.

Baca Juga :  Jokowi ke Erick Thohir: BUMN Yang Sakit Tutup!

“Jadi saya menilai Erick sama saja membela para koruptor. Percuma slogan BUMN akhlak, tapi komisaris tak berakhlak,” katanya kepada Indonesia Parlemen, Kamis (26/8/2021).

Berkaca dari hal itu, Jerry Massie menilai penunjukan ini akan menjadi hambatan  Erick Thohir untuk melaju ke Pilpres 2024. Baginya, Emir Moeis merupakan bukti nyata Erick Thohir tidak bisa memimpin.

“Dia tak punya ability (kemampuan) memimpin. Barangkali cocok dia pegang klub sepak bola. Ini pernah dilakukan saat memegang Inter Milan,” sambungnya.

Erick, kata Jerry Massie, juga tidak peka dengan desakan publik saat dia mengangkat mantan napi koruptor Emir Moeis jadi komisaris.

Baca Juga :  Menteri PANRB Apresiasi ASN Yang Tak Mudik

Padahal keinginan rakyat hanya sederhana, yakni siapa saja yang duduk di direksi dan komisaris mereka punya rekam jejak yang bersih.

“Makanya dia mencopot Emir, bukan malah membela. Sama saja Erick tak bersih, tak pemimpin jujur mengangkat anak buah maling,” lanjut Jerry Massie.

Terlepas dari itu, Jerry Massie juga merekam catatan buruk Erick Thohir selama menjabat sebagai Menteri BUMN. Di mana manajemen banyak yang amburadul. Seperti maskapai kebanggaan Indonesia, Garuda Indonesia yang merugi Rp 70 triliun hingga sejumlah komisaris mundur .

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *