Ribuan Pengunjung Ditolak Masuk Mal Karena Positif Covid-19

  • Bagikan
Foto: ilustrasi

JAKARTA – Pusat perbelanjaan tampaknya tak ingin kecolongan menemukan kasus positif Covid-19. Kabarnya ada ribuan orang yang ditolak masuk mal akibat positif Covid-19. Hal ini diketahui akibat hasil scan QR code di pintu masuk mal menunjukkan warna hitam.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, ditolaknya ribuan pengunjung positif Covid-19 masuk ke mall menandakan bahwa pusat belanja semakin aman.

“Pusat perbelanjaan selalu memberlakukan dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, disiplin, dan konsisten. Pusat perbelanjaan menjadi salah satu fasilitas yang semakin aman untuk dikunjungi dan berbelanja,” kata Alphonzus dalam siaran pers, Minggu (12/9/2021), dikutip dari Kompas.com.

Baca Juga :  Australia Kirim Bantuan Alkes dan Vaksin AstraZeneca Untuk Indonesia

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan telah mengatakan bahwa akan menambahkan fitur warna hitam pada aplikasi PeduliLindungi.

“Pada minggu ini kita akan melakukan perubahan kategori warna pada (aplikasi) PeduliLindungi,” ujar Luhut seperti dikutip dari KompasTV, Senin (30/8/2021) malam.

“Akan ditambahkan kategori warna hitam bagi orang yang terindentifikasi positif Covid-19 atau kontak erat (pasien positif),” tegasnya.

Kendati demikian, Alphonzus mengatakan, berkeliarannya warga positif Covid-19 perlu penanganan khusus dari pemerintah.

Baca Juga :  Panglima TNI dan Kapolri Sidak PPKM di Tiga Lokasi DKI Jakarta

Meski ditolak masuk mal, mereka masih dapat berkeliaran di tempat-tempat umum lainnya.

“Pemerintah harus memastikan bahwa mereka tidak bebas berkeliaran di tempat-tempat umum sehingga tidak merepotkan dan tidak membahayakan masyarakat umum lainnya,” ucapnya.

Menurut Luhut, jika orang-orang yang dikategorikan warna hitam tersebut masih memaksa beraktivitas di tempat umum, maka akan langsung dievakuasi.

“Jika orang-orang (yang positif) ini masih memaksa melakukan aktivitas di ruang publik maka mereka langsung dievakuasi untuk isolasi atau dikarantina terpusat,” ucap Luhut.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *