Daun Kratom Masuk Narkotika Golongan 1, BNN: Masih Dalam Proses

  • Bagikan

JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) berencana akan menggolongkan daun kratom masuk narkotika golongan 1 masih dalam proses.

“Kratom dalam proses, kita melihat dan sampai dengan sekarang kita masih menunggu, ada aturan-aturan yang harus kita laksanakan,” kata Kepala BNN Petrus Reinhard Golose, dalam acara di Kampus Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (19/6/2022).

Dia mengungkapkan saat ini sudah mengusulkan agar daun kratom masuk dalam revisi Undang-undang Narkotika yang saat ini masih bergulir.

“Tetapi, dari BNN kita usulkan itu untuk menjadi salah satu bahan dalam perubahan Undang-undang. Jadi, perubahan Undang-undang masih proses antara kita dengan DPR,” ucap Petrus.

Baca Juga :  Yusril: Segera Revisi UU Cipta Kerja Agar Tak Inkonstitusional Permanen

Petrus menyebut, pihaknya juga mendukung penyalahguna narkoba untuk menjalani rehabilitasi ketimbang dipidana penjara. Menurutnya, langkah tersebut bisa meminimalisir penyalahgunaan narkoba di lembaga pemasyarakatan.

“Kita lihat, apakah kita bersama-sama dengan wakil rakyat yang menjadi inisiasi adalah pemerintah, bagaimana menyatakan bahwa apabila ada aturan-aturan untuk penyalahguna bisa kita rehabilitasi,” jelas dia.

“Kita masukin untuk kita terima lagi mereka. Dan Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia sekarang, kita membuat program yang disebut dengan intervensi berbasis masyarakat. Jadi bagaimana kita melibatkan rakyat untuk ikut bersama-sama,” imbuh dia.

Sebagai informasi, Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono menyatakan kandungan daun kratom masuk dalam kategori narkotika golongan I. Namun, daun kratom belum masuk dalam peraturan menteri kesehatan.

Baca Juga :  Presiden Perintahkan Kapolri Usut Jaringan Pelaku Bom Gereja Makassar

Sebelumnya,  Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mendorong penanaman kratom yang mudah dan cepat tumbuh sebagai salah satu upaya mencegah bencana alam banjir di wilayahnya.

Sutarmidji juga mengajak baik pemerintah daerah maupun masyarakat untuk ikut menanam tumbuhan yang sesuai dengan habitatnya. Ia mengingatkan bahwa kelangsungan tempat tinggal mereka merupakan tanggung jawab bersama.

“Jadi jangan misalkan di situ banyak pohon bangkirai lalu kita tanam pohon bambu kan tidak mungkin. Contoh misalnya paling cepat tumbuh dan bagus, lebih cepat itu tanaman kratom,” kata Sutarmidji.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.