NEWS

Program Bank Sampah Mempunyai Nilai Ekonomis Bagi Masyarakat

TANGERANG SELATAN – Apa itu bank sampah.? Bank Sampah adalah suatu organisasi atau wadah yang memiliki konsep seperti perbankan ,dengan melakukan penerimaan penyetoran tabungan dari warga masyarakat berupa barang bekas kering yang memiliki nilai ekonomi yang berasal dari rumah tangga, dengan tujuan memaksimalkan partisifasi warga masyarakat untuk menambah nilai ekonomi dari sampah. Karena sampah seringkali menjadi ‘musuh’ bagi masyarakat dimuka bumi ini dan dimanapun yang ada kehidupan manusianya. Selain kotor dan berbau, tumpukan sampah dapat juga membawa berbagai macam penyakit serta menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Padahal, sampah jika diperlakukan dengan baik, ramah dan benar, maka sampah akan bisa memberikan manfaat yang sangat besar, baik untuk manusia itu sendiri maupun untuk keseimbangan lingkungan hidup dan ekosistem. Menyadari hal tersebut, walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany melalui Peraturan Walikota (Perwal) Tangerang Selatan nomor 50 tahun 2017, pasal 12 ayat 5 menyebutkan bahwa, aparat perangkat daerah dihimbau untuk memiliki Bank Sampah.

Menurut Wismansyah, ST selaku kepala bidang Persampahan pada dinas Lingkungan Hdup kota Tangerang Selatan (Tangsel), melalui program Bank Sampah ini, warga masyarakat diharapkan akan mampu mengelola sampah secara mandiri menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai ekonomis. Bank Sampah dikelola oleh berbagai macam komunitas, mulai dari kelompok masyarakat, Karang Taruna, pecinta lingkungan, kader PKK, hingga mahasiswa dan pelajar. Melalui Bank Sampah, warga masyarakat akan diberikan berbagai cara menyusun program-program pengelolaan sampah yang terarah dan bermanfaat dari masyarakat untuk masyarakat.

“Dalam Bank Sampah ini, kami mengajak masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga agar dapat memisahkan sampah yang masih dapat didaur ulang, untuk ditabung di Bank Sampah,” tutur Wismansyah Kabid Persampahan Tangsel.

Wismansyah menambahkan bahwa, sejak dimulai sosialisasi tentang Bank Sampah dikota Tangsel pada tahun 2011 hingga Maret tahun 2018 ini, sudah terdaftar sebanyak 156 Bank Sampah dengan 6935 anggota nasabah Bank Sampah. Dengan rincian kecamatan Pamulang terbanyak yaitu 60 Bank Sampah dengan 2466 nasabah, Ciputat Timur dengan 27 Bank Sampah dan 1315 nasabah, Pondok Aren dengan 27 Bank Sampah dan 1140 nasabah, Setu dengan 18 Bank Sampah dan 1081 nasabah, Ciputat dengan 16 nasabah dan 521 nasabah, Serpong dengan 5 Bank Sampah dan 314 nasabah serta Serpong utara yang hanya memiliki 3 Bank Sampah dengan 98 nasabah.

Para nasabah Bank Sampah secara aktif menyortir sampah-sampah yang dapat didaur ulang seperti plastik dan bekas botol minuman dalam kemasan plastik dan meyetorkannya ke Bank Sampah. Sampah dari masing-masing nasabah akan ditimbang dan dihitung nilainya oleh petugas. Nilai sampah tersebut akan tercatat dalam buku tabungan dan dapat digunakan untuk berbagai transaksi, termasuk token listrik atau pelunasan listrik pascabayar. Bahkan saat ini melalui Bank Sampah yang bekerjasama dengan pihak Penggadaian, sampah-sampah yang bernilai ekonomis tersebut, bisa ditukarkan juga dengan emas murni senilai harga sampah yang disetorkan ke Bank Sampah.

Sampah yang terkumpul di Bank Sampah Induk akan dipilah lagi sesuai jenisnya, seperti plastik, kertas, koran, almunium dan juga besi. Sampah plastik akan masuk ke proses pencacahan dan dijual kembali ke pabrikan untuk dibuat berbagai jenis produk plastik. Sementara itu, sampah kemasan dapat dikreasikan menjadi produk kerajinan seperti tas, sandal, bahkan hiasan rumah. Setiap harinya volume sampah yang masuk ke TPA Cipeucang sebanyak 250 hingga 300 ton/hari. Dengan pengembangan program Bank Sampah, memang masih kecil dalam mengurangi volume jumlah sampah yang masuk ke TPA Cipeucang, akan tetapi sangat amat membantu dalam proses penguraian dan pembusukkan sampah di TPA Cipeucang karena tak terbebani oleh adanya sampah non organik yang tak bisa membusuk dan terurai.

“Bank Sampah ini konsepnya dari masyarakat untuk masyarakat, sampahnya dikumpulin oleh masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan nanti hasilnya juga untuk masyarakat dalam menanbah penghasilan kebutuhan ekonomi untuk keluarga. Ini bentuk wujud nyata kita untuk sayang kepada bumi dan lingkungan dengan membersihkannya dari sampah,” pungkasnya. (BTL/Adv)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close